Kasus Junko Furuta Lengkap

Kasus tragis Junko Furuta, pembunuhan brutal yang mengguncang Jepang dan dunia (korban penculikan, pemerkosaan, penyiksaan dan pembunuhan)

Junko Furuta lahir pada tanggal 18 Januari 1971 dan dibesarkan di kota kecil Misato, Jepang.

Junko sangat disukai oleh teman-teman sekelasnya di sekolah menengah (SMA), memiliki nilai tinggi, dan jarang bolos sekolah.

Junko memiliki keinginan dan bercita-cita menjadi seorang penyanyi. Meski populer dan dianggap cantik, ia tidak pernah menjalin hubungan serius atau berpacaran.

Ketika Hiroshi Miyano mengungkapkan perasaannya terhadap Junko dan ditolak, hal itu memicu peristiwa yang tragis. Akibat penolakannya menimbulkan konsekuensi tak terduga.

Junko Furuta sedang mengendarai sepedanya pulang ke Tokyo pada tanggal 25 November 1988, ketika dalam perjalanan terjadilah sebuah tragedi. Hiroshi Miyano membawanya ke sebuah rumah dengan kedok menawarkan bantuan setelah kecelakaan yang terjadi.

Tiba-tiba, Miyano, yang awalnya menampilkan dirinya sebagai seorang pria sejati, ternyata adalah anggota Yakuza, salah satu organisasi kriminal yang terkenal kejam. Hal ini menandai awal dari cobaan berat selama 44 hari bagi pelajar Jepang tersebut.

Dia mengancamnya, mengatakan bahwa dia harus bersamanya atau dia akan menyakiti Junko dan keluarganya.

Gadis itu sangat ketakutan, membuatnya tidak bisa berkata-kata. Setelah kejadian tersebut, Miyano dan teman-temannya membawa gadis tersebut ke salah satu rumah mereka di Kota Misato, Saitama.

Selama 44 hari, dia diculik dan mengalami kekejaman yang tak terbayangkan. Selain pemukulan fisik dan kekerasan seksual, Junko juga mengalami berbagai penyiksaan fisik dan psikis.

Semua itu dimaksudkan untuk menyebabkan Junko menderita. Bentuk penyiksaan yang dilakukan Junko adalah dengan cara memutilasi putingnya, memasukkan benda tajam ke dalam vagina, membakar kulitnya dengan rokok, korek api dan lilin.

Di jatuhkan dari ketinggian, digantung dilangit-langit, menggunakan tubuh korban sebagai karung tinju, memakan kecoa hidup, meminum air kencingnya sendiri, dipaksa melakukan masturbasi di depan para penyiksa dan diperkosa (pemerkosaan yang berhasil dihitung sebanyak 400 pemerkosaan)

Penculik juga menelanjanginya dan berulang kali menenggelamkan ke dalam air es. Semua ini, ditambah dengan kurangnya makanan dan perawatan medis, dengan cepat memperburuk kesehatan Junko.

Untuk mencegah pembelaan diri, para penyiksa mengikat semua jarinya dengan tali sedemikian rupa sehingga suplai darah terputus sepenuhnya.

Dua hari setelah gadis itu hilang, pihak berwenang memulai pencarian mereka, namun pencarian itu tiba-tiba dihentikan ketika orang tua gadis yang hilang itu mengonfirmasi menerima panggilan telepon dari putri mereka, memberi tahu mereka bahwa dia telah memutuskan untuk meninggalkan rumah dan pergi ke tempat yang tidak diketahui bersama temanya.

Orang tua menerima keputusan anaknya. Panggilan tersebut dilakukan di bawah tekanan. Junko menghadapi empat penyiksa di depannya selama percakapan, siap untuk menyakitinya kapan saja. Dengan cara ini, Hiroshi Miyano dapat terus menuruti fantasinya yang menyimpang tanpa takut akan konsekuensinya.

Tepat dihari hari 44 gadis itu dipukuli selama beberapa jam, hingga dia kehilangan kesadaran. Mengetahui bahwa korbannya telah meninggal mereka lalu membuang jenazahnya dengan memasukkannya ke dalam drum minyak dan dikasih semen. Setelah kejadian tersebut kemudian korban diangkut jauh dari TKP.

Pihak berwenang lalu menyadari kejahatan mereka, dan pelaku mengakui telah melakukan penculikan, pemerkosaan, dan pembunuhan terhadap Junko. Pengungkapan yang mengejutkan ini menyebabkan petugas yang menginterogasinya tercengang melihat kebrutalan kejahatan tersebut.

Keempat pelaku masih di bawah umur saat menculik Furuta. Sepanjang persidangan, hal-hal spesifik yang mengerikan muncul, termasuk kesaksian para penculik.

Namun demikian, para terdakwa membantah terlibat dalam sebagian besar tindakan penyiksaan dan kekerasan seksual, sehingga memicu kemarahan besar di masyarakat Jepang.

Keempatnya dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman penjara. Meskipun kejahatan yang dilakukan oleh keempat remaja tersebut sangat mengejutkan, pengadilan memutuskan bahwa mereka masih di bawah umur pada saat melakukan kejahatan dan merahasiakan identitas mereka. Namun, jurnalis memperoleh data tersebut dan mempublikasikanya.

Pada saat kejahatan terjadi, Hiroshi Miyano, yang berusia 18 tahun, dijatuhi hukuman penjara 20 tahun.

Nobuharu Minato, berusia 16 tahun pada saat melakukan kejahatan, menerima hukuman penjara berkisar antara 5 hingga 9 tahun.

Yasushi Watanabe, berusia 17 tahun, dijatuhi hukuman 5 hingga 7 tahun penjara.

Jo Ogura, yang berusia 17 tahun pada saat melakukan kejahatan, dijatuhi hukuman 8 tahun penjara.

Setelah bebas kini para pelaku mulai hidup dengan nama yang berbeda dan berupaya membangun kembali kehidupan mereka setelah dibebaskan dari penjara.